Belum juga kudapati pesan darimu, tentang keberadaan dan juga kabarmu. Bagaimana harimu? Menyenangkan? Atau masih sama saja seperti ceritamu dulu?
Ternyata menjalani hari yang tak ada kamunya itu menyesakkan. Bagian-bagian sekecil apapun selalu mengingatkan aku padamu tanpa bisa kurasakan nyata hadirmu di sisiku. Aku di sini masih menunggumu, entah terbatas waktu atau tidak, aku memilih untuk tetap menunggumu.
Bisik angin malam yang menyebut namamu masih menjadi pengantar tidur kesukaanku. Karenanya aku masih berani membuka mata di pagi hari. Menghadapi dunia dengan berbekal harap yang berangkat dari bisikan angin semalam.
Tuan, tidakkah kamu juga merindukanku setengah mati? Aku tahu pasti bahwa rinduku tak pernah pupus terhadapmu. Kamu hanya melawan hatimu sendiri. Berhentilah menyiksa diri, agar tak lagi sesal yang kan didapati.
Aku masih di sini. Di tempat biasa kita merayakan rindu, di singgasanamu, di kursi kayu.
Komentar