Aku sudah sering tersenyum, hatiku terasa lapang, langkahku ringan, nada bicaraku melembut. Tuhan beri aku tenang di saat aku melepaskan doa-doaku tentangmu ke langit. Tak lagi kugenggam erat layaknya menahan diri. Sejak doaku mulai lagi terisi namamu, sejak itu pula aku perlahan pulih. Aku tak lagi memaksakan kehendak, lebih menerima karena meyakini apa yang terjadi pasti melalui kehendak dan izin dari-Nya. Berulang kali kita ada dan samar. Tapi kali ini aku merasa tenang di tengah "hilangmu". Mungkin karena aku percaya bahwa doaku tentang meminta untuk kamu dijaga itu didengar. Hafiz, namamu ramai di langit doaku. Terima kasih karena sudah menjadikan aku sebagai manusia yang memilih untuk kembali pulang. Kamu adalah perantaraku untuk sadar bahwa sebaik-baiknya berharap adalah kepada-Nya. Kamu luar biasa. Perjalanan hati, hidup dan spiritualku berisikan kamu. Terima kasih sudah hadir ya, rasanya bila kuberi seluruh isi bumi ini takkan cukup mewakilkan rasa terima kasihku p...
Postingan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Terima kasih karena sudah ada di dalam kisah hidupku. Dikarenakan pelukmu yang kucandui itu, aku bertahan hidup lebih lama. Menguatkan alasanku untuk tetap menanti hari esok. Kamu -selain trahku- adalah salah satu lelaki yang menopangku. Di tiap kali tenagaku habis, kupandangi lelaki kecilku dan kemudian kubaca ulang lagi pesan singkat kita. Untuk kemudian aku mampu berdiri lagi. Selain karena doaku masih ingin menemani perjalanan hidup jagoanku itu, adalah pelukmu yang menjadi pendorongku untuk tetap bernapas. Tolong sampaikan pada wanita muliamu, aku berterima kasih dengan tulus dikarenakan kamu sudah dilahirkan. Kuyakini indah hatinya pasti nyata. Sungguh, padanya aku ingin memberi hormat sebagai bentuk rasa terima kasihku yang begitu besar. Hai kamu, terima kasih juga karena masih mau menjadi alasanku memperpanjang waktu. Bekas luka di lengan itu masih ada, tapi tak berarti banyak selama kamu masih mau meyakinkan aku bahwa aku berharga. Seperti yang pernah kusampaikan, aku pernah ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Hai lelaki baikku, kekasih hatiku Hari ini rinduku pecah dalam tangis tengah malam. Aku hanya bisa mengirimkan doa yang di dalamnya kusebut namamu. Meminta segala kebaikan mengelilingimu dan menjauhkan segala yang membuatmu bersedih. Hanya doa yang bisa kulakukan sekarang karena aku tak memiliki cukup nyali lagi untuk melewati batas. Percakapan terakhir kita membuatku mati langkah. Terasa nyata bahwa hadirku bukan harapanmu. Maka kupilih diam dan putar badan. Biar munajatku saja yang melalukan tugasnya. Kubaca ulang percakapan kita dari tahun lalu, terasa sedikit hangat di dalam dada tapi juga ada sesuatu yang terasa menampar dengan keras. Kenyataan bahwa aku lah pemeran jahatnya, egoku yang meminta untuk ditimang adalah sikap kekanakan yang baru kusadari. Hingga akhirnya di saat kamu menerapkan batas tetapi aku dengan tidak tahu diri mencoba untuk melewatinya dan kamu tetap pada pendirianmu namun aku mengecapmu sebagai penjahatnya. Padahal, aku lah yang jahat. Tapi perlu kamu ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kepada sepasang mata yang menemukan aku di dalam tulisan ini Hai, semoga setelah menemukan barisan kalimat ini, kamu sedikit memahami apa isi hati dan pikiranku selama ini. Tak banyak yang ingin kusampaikan, tadinya. Tapi mungkin aku akan menulis lebih banyak dari apa yang direncanakan. Aku bukanlah wanita istimewa seperti wanita kebanyakan. Aku wanita biasa yang tak tahu rasanya dirayakan dan dibanggakan. Hingga membuatku berkhayal tentang setangkai bunga dan pujian manis untukku di depan orang lain. Setangkai bunga yang wanginya tak terendus olehku dari kejauhan, dalam bayanganku itu sangat manis. Meski aku tak bisa membayangkan akan bereaksi seperti apa. Karena tidak pernah mengalaminya. Sebuah pelukan tanpa diminta sepertinya akan menjadi sesuatu yang sangat menenangkan. Menumpahkan bendungan rindu di dalamnya adalah keinginanku yang masih menggantung di ujung lidah. Sepanjang perjalanan hidup, keinginanku tak pernah searah dengan restu. Seperti berdosa bila aku memilih untuk ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Cukup seperti ini saja. Tidak beranjak ke mana pun, tidak bergeser sama sekali. Keadaan ini sudah sangat cukup untuk kusyukuri. Walau tak banyak kembang api lagi, setidaknya tanganku tidak mengusap sesuatu yang membuat basah di sudut mata. Aku tak meminta lebih dari ini. Cukup seperti ini saja. Karena aku tahu, semakin banyak aku meminta maka semakin banyak pula yang tergantikan. Benar kata seorang pujangga yang kukagumi, ia berkata bahwa cinta adalah tentang apa yang membuatnya bahagia. Dan inilah cintaku. Membunuh ego sendiri demi tak mengusik zona nyamannya yang di dalamnya tidak ada aku. Demi tetap bisa mendengar kabar, aku rela mengecilkan hati sendiri. Menjadi pemeran antagonis untuk diri sendiri tapi bersikap sehangat rumah untuknya. Meski hati rindu ingin ini dan itu, tapi jika dia tidak maka tidak akan ada ini dan itu. Dia ada tapi hatinya tidak lagi di sana. Pemaklumanku harus lebih panjang lagi. Menjadi yang kalah bagiku adalah biasa. Aku yang tak tahu caranya menang dan mer...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Buang waktu untukku itu tak sepadan ya? Aku tak seberharga itu ternyata. Caraku meminta perhatian masih sama. Dan tetap tak diterima. Aku masih kalah dari sebuah ego. Jangankan dirayakan, dimenangkan pun aku tak layak. Sial. Rasa percaya diri yang mati-matian kubangun harus runtuh hanya karena sebuah pengabaian. Andai kutahu ini akan terjadi, maka akan kukubur rinduku sedalam palung dan kuagungkan egoku. Aku hanya dipermainkan oleh ilusi yang sengaja diciptakannya untuk membuaiku lalu menjatuhkan aku lagi. Barangkali memilih untuk benar-benar membunuh hatiku sendiri adalah pilihan paling bijak. Berharap dicintai adalah kemustahilan terbesar dalam hidupku. Meski aku sudah berusaha sekuatnya untuk menjadi rumah yang nyaman, tetap saja aku bukan yang dimaui. Baginya aku hanya penghibur. Bagiku dia adalah segalanya. Dalam pemaknaan pun berbeda maka takkan ditemukan arah yang sejalan. Haruskah kurencanakan kepergian itu dengan cara berpamitan yang baik? Atau menghilangkan diri dalam...