Hai, Hafiz ...
Hilang kabar bagi kita terasa seperti rutinitas ya. Rajin berkabar mungkin membuat duniamu terlalu penuh. Maaf ya ...
Tapi entah kenapa masih kamu tujuanku untuk selalu memperbaharui kabarku. Entahlah, bagiku penting untuk kamu tahu apa yang akhir-akhir ini terjadi dan kurasakan. Meskipun aku tahu kamu tak akan peduli tentang aku lagi. Begitupun aku, tak peduli bila kamu tidak peduli.
Fiz, ceritaku kali ini berawal dari aku yang menyadari bahwa jatuhku makin dalam. Kamu sadar kan kalau kamu tujuanku berlari dari semua rasa sakit yang kemarin aku alami. Padamu aku berharap resahku menemukan tenang, tangisku menemukan bahu, diamku menemukan pelukan hangat, sakitku menemukan reda. Di tengah rasa aku kembali terlena oleh keadaan, jumawa karena merasa dimenangkan oleh kamu, aku mengalahkan ketidaknyamanan itu. Tapi baru beberapa langkah kita berjalan, kamu tinggalkan aku yang bahkan belum sempat menggenggam tanganmu. Pucuk pengharapanku patah lagi. Merasa tak berarti, tak berharga, tak berdaya. Lebur semua mimpiku akan sembuh. Duniaku berantakan. Bahkan serpihannya sudah tak beraturan hingga terlihat mustahil untuk bisa disusun utuh lagi.
Aku yang tak memiliki rasa percaya pada siapa pun ini, akhirnya memilih untuk mencari pertolongan pada orang asing. Karena aku menyadari bahwa aku butuh ditolong.
Akhir bulan kemarin, aku resmi jadi seseorang dengan gelar pasien kesehatan mental. Sebelum menulis ini pun aku baru saja menelan benda yang disebut obat. Padahal obat yang benar-benar aku butuhkan hanya sebuah pelukan tulus. Tapi karena peluk itu tak tersedia untuk aku, maka benda itu yang harus kujadikan pengganti dari peluk yang tak pernah ada lagi.
Iya, Fiz. Sakitku nyata. Aku kemarin berlari ke arahmu itu bukan aku yang kehilangan akal. Tapi aku yang butuh untuk ditolong oleh kamu. Kamu bukan pelarianku, kamu bukan pelampiasanku. Yang aku butuh itu hatimu. Hati yang pernah membuatku merasa pulang. Jangan salah paham lagi ya. Saat itu aku butuh kamu sebutuh-butuhnya aku untuk merasa diterima. Tapi ternyata aku dikalahkan oleh keadaan karena hatimu tak lagi sama.
Hafiz, terima kasih ya. Karena sikapmu mengajarkan aku untuk tak bergantung pada siapapun lagi. Membuat aku berani untuk mengambil sikap dan berhenti menyangkal bahwa aku baik-baik saja. Doakan aku semoga aku segera sembuh dan untuh lagi. Aku pun juga mendokan kamu selalu di sini. Mengucap syukur dan terima kasih karena sudah dikirimkan pelajaran berharga yaitu kamu.
Aku janji, sesakit-sakitnya aku di saat kambuh, aku tak akan mencari kamu sebagai obat.
Komentar