Dia adalah kisah yang menolak untuk ditemukan akhirnya. Selalu ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku ingin kembali. Seakan medan magnetku adalah dia.
Suaranya, menggetarkan hatiku. Tamengku runtuh seketika di kala dia menyapa.
Namanya, menyebutnya seperti memanggil diriku sendiri.
Bayangannya, di kegelapan manapun selalu bisa kutemukan.
Dia selalu hadir dalam ketidakhadiran, nyata dalam ketidakmungkinan.
Tawanya masih terngiang di ruang rindu. Sisa banyangnya yang kupeluk erat menyisakan sesak yang tak dapat diartikan.
Dia adalah rindu dan luka yang kucinta.
Dia adalah candu.
Sakit dan bahagia karenanya itu tak apa, asal itu dia.
Dia adalah rumah. Setiap kali aku tersesat hanya dia tempatku kembali pulang.
Padanya kuberikan bagian terbaik dari diriku. Tulus dan utuhku.
Tentang dia, puisi yang tak pernah selesai kutulis.
Dan barangkali sampai akhir hayatku, aku akan tetap jatuh cinta padanya.
Komentar