Aku adalah Wanita yang sudah penuh dengan luka. Datang dan berlari ke arahmu bukan tanpa tujuan apalagi sebagai pelarian. Kamu, lelaki yang pernah kuanggap pusat semestaku. Namun kini kamu bersikap seperti orang asing bagiku. Kamu yang kukira masih menyambutku ternyata aku hanya diizinkan berada di pelataran pintu hatimu. Kamu yang dulu rumah bagi pelukku, kini aku hanya diperlakukan sebagai tamu yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Padahal rindu di dalam hati terus memanggil sanubari, berharap dibalas tuntas oleh kamu yang kukira masih rumah.

Salahku yang mungkin terlalu percaya bahwa kamu masih sama seperti aku. Salahku yang terlalu percaya bahwa pelukku terbalas tulus. Salahku yang tidak menerima kenyataan bahwa sedari dulu pun aku tidak disayang.
Maaf untuk segala perasaan dan harapan yang kupaksakan. Aku membuatmu tidak nyaman dan terpaksa. Aku tertampar lagi dan lagi oleh kenyataan. Aku masih tidak disayang.

Di garis waktu yang hanya berjalan satu kali putaran ini, aku menunjukkan dan memperjuangkan tulusku hanya untukmu. Tapi ternyata aku tidak disambut baik. Katanya, jika lelaki ada mau maka mereka akan selalu menemukan jalan. Tapi tidak kutemukan padamu untuk mengusahakan rindu ini. Ya, sekali lagi kutegaskan itu semua karena aku tidak disayang.

Aku bertepuk sebelah tangan lagi. Di saat katanya kamu sedang cinta aku, aku yang pergi. Di saat aku yang bergantung padamu, kamu yang mengulur. Mungkinkah kita hanya ditakdirkan bertemu tapi tidak Bersama?

Komentar

Postingan populer dari blog ini