Diamku tak dipahami
Pergiku tak dicari
Padahal aku pernah sangat percaya
Marahku itu baginya adalah siksa
Dan tawaku adalah suka cita
Salah paham aku mengartikan setiap kata-katanya
Binar matanya adalah kebohongan yang kusangkal kenyataannya
Pergilah
Luka ini akan sembuh; dengan diam yang panjang, dengan tangis yang tak lagi menuntut jawaban, dengan puisi yang tak bernama
Kelak, saat hidup sudah berjalan di garis waktu yang semestinya
Semoga kita tidak dipertemukan di kebetulan manapun
Komentar