dalam beberapa hari ini aku menyadari banyak hal. berjaraknya kita adalah satu hal yang tak kuinginkan namun ternyata harus kulalui. melewati banyak hari tanpa kabar darimu lagi adalah menyebalkan. banyak tanya di dalam kepala yang memaksa untuk tersampaikan padamu namun tertahan karena ego.
aku kira selama ini aku yang lebih banyak terluka, ternyata tidak. dalam perenungan aku menemukan tiitk buta yang selama ini aku sangkal. menjadi kamu pun sakit. aku pun jika ada di posisi itu pasti akan kecewa dan marah luar biasa pada diriku sendiri. dan dengan tidak tahu dirinya aku datang padamu membawa setumpuk luka, meminta kamu untuk menemani pulihku, yang seharusnya tak pantas aku memperlakukan kamu seperti itu. luka yang bukan kamu sebabnya tapi kupaksa kamu untuk menyembuhkan aku. betapa jahat dan egoisnya aku.
di tengah jalan kamu melepas janji dan aku kecewa. tanpa mau mengerti bahwa kamu pun merasakan pedih yang lebih besar dibanding aku.
kelak, jika waktu mengizinkan kita duduk berdua, menatap senja yang sama, akan kujanjikan takkan ada lagi rasa yang kurahasiakan. akan kutuntaskan janji cerita yang pernah kusimpan dalam diam. karena aku tak ingin sesalku terulang lagi; menyimpan hasrat seperti saat di Jogja.
nanti akan kubisikkan padamu betapa kerasnya aku berjuang menaklukan badai yang membuat mataku tak berhenti berair. betapa banyaknya kamu yang kuhadirkan dalam bentuk andai di tiap malam-malam sepiku. melawan malam yang panjang di tiap sesak yang dibuat oleh lelaki yang bukan kamu.
di hari-hari yang berat itu aku menemui persimpangan yang tak terhitung, perang batin yang sulit kumenangkan. melanjutkan yang sudah ada hanyalah membuat aku semakin kehilangan diri sendiri. menyudahinya pun berat. di kegamangan itu masih tetap kamu yang menjadi alasanku untuk kuat. kisah kita yang usang itu yang membuatku percaya bahwa aku masihlah berharga.
aku yang tenang itu dibuatnya hancur. aku yang percaya itu dibuatnya kehilangan kepercayaan diri. aku yang indah itu dibuatnya jatuh. dan ketika aku memilih untuk lepas darinya, aku kembali mengenang aku yang dulu saat bersamamu. betapa aku jatuh cinta pada kisah kita. kisah yang membuat aku menjadi seseorang yang sangat manis. aku merindukan aku yang denganmu. betapa maunya aku menjadi seperti yang kamu mau. memasak? menyeduh kopi? memakai gaun? bersolek? itu semua bukan aku. tapi demi kamu, kulakukan dan aku menikmatinya. ternyata menjadi yang bukan aku sepenuhnya demi yang kucinta itu menyenangkan.
aku mencari aku yang denganmu itu. masihkah kutemukan aku di dalam kamu?
sebelum aku bisa menemukan aku yang manis itu, aku akan lebih dulu pulih dengan utuh. agar tak lagi kamu kukorbankan. aku akan sembuh dan kembali menjadi aku yang siap bertemu denganmu lagi. aku akan belajar memeluk doa dengan cara paling tenang, menyampaikan pada langit tanpa perlu suara lantang. aku meyakini setiap yang tulus pasti akan sampai pada tujuan.
dalam perjalanan menuju ikhlas ini ada kamu yang kubayangkan menyambutku di muka pintu. aku datang tidak dengan tangan kosong. melainkan dengan sesuatu yang telah lama kupersiapkan di dalam dada. kupastikan hatiku telah siap menjadi rumah yang hangat. meski masa lalu menempaku habis-habisan, tapi aku tahu caranya bertahan dan bangkit dari semua keterpurukan. kujanjikan takkan ada bekas luka yang membayangiku lagi.
untuk kali ini, aku tak ingin tergesa-gesa seperti kemarin. terbawa suasana dan emosional hingga membuatmu tak nyaman. maafkan aku yang kekanakan. itu semua karena aku masih terbawa perasaan takut ditinggal dan tak diakui. buah dari sakit yang lalu. aku akan kembali menjadi aku yang manis lagi.
aku ingin pulang dengan tenang. ketenangan yang dulu pernah kita buat dalam dekapan yang hangat. jikapun tidak untuk bersama, setidaknya hadiahi aku pelukan, sekali lagi.
Komentar