hari ini masa tungguku berakhir. tak ada perasaan istimewa untuk itu. biasa saja, datar saja. justru perasaan yang lebih dominan adalah perasaan ikhlas atas semua yang sudah terjadi di antara kita. lucu ya. kejadiannya apa, yang dirasa apa. 
 
sejauh ini masih dan akan selalu kamu pemeran utamanya. kenapa? karena hatiku memilih kepadamu pelukku berumah. dalam pelukmu yang kucandui itu aku menemukan kehangatan, tenang, nyaman dan utuh. aku tak percaya saat kamu mengakui bahwa tiada rasa saat kita bersama dulu. karena tulusmu kurasakan nyata bukan dusta. dikarenakan itu tak ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatiku. 
 
terima kasih, ya. untuk pelukan yang tak pernah kamu tolak. untuk setiap tawa yang kamu buat meski sekadar ledekan lucu padaku. untuk setiap tatap yang di dalamnya aku rela tenggelam sedalam-dalamnya. untuk setiap kecupan kening sebagai pengganti kata pamit di tiap jumpa. untuk setiap kata penenang yang senyatanya menenangkan prasangkaku yang sibuk. terima kasih pernah memberikan semua yang aku butuhkan. meski sesaat, tapi kamu mengisi penuh tangki cintaku.
 
kamu itu ajaib. karena tanpa permisi kamu sudah kuizinkan untuk membaca aku. yang aku berani bersumpah, di seumur hidupku tak ada yang bisa melakukan itu kecuali kamu. hei, kamu apakan aku?
 
percayalah, di tiap aku menulis tentang kita, di saat itu juga aku merasakan ada debar yang sama seperti saat aku jatuh cinta padamu.
 
tuan, aku merindukan percakapan kita melalui pesan-pesan manis itu. aku merindukan tawa kemenanganmu saat berhasil mengalahkan aku di dalam perdebatan tentang tim favoritku. aku merindukan caramu mencintaiku dengan sederhana. tak pernah kuminta kamu untuk memperlakukan aku seperti apa. namun apa adanya kamu yang membuatku merasa cukup. 
 
ah, indah sekali kala itu. aku merasa menjadi aku dengan versi terbaik dalam mencintai. tuan, aku percaya hatimu masih hangat. pelukmu masih menenangkan. tatapmu masih penuh dengan cinta. betapa kukagumi hati yang kamu miliki. 
 
kelak, jika kita sudah diizinkan untuk berjalan di atas garis waktu yang sama, takkan kulepas segala yang ada padamu. oh tuan, aku butuh kita. mungkinkah?




Komentar

Postingan populer dari blog ini