Kepadamu aku memilih pulang
Membawa segudang luka dan setumpuk pedih 

Kamu sambut datangku, tanpa pelukan selamat datang, tanpa sorak atau pun setangkai bunga, dan biarlah begitu. Aku tak butuh gaduh, hanya butuh kamu iyakan. Mencoba memulai cerita baru bersama, berharap air mata beralih menjadi tawa canda yang dulu pernah kita buat di ruang udara yang sama. 

Semua berjalan indah sebelum kamu bergeming atas semua cerita lukaku. Ketika aku tenggelam dalam cerita masa lalu kita, kamu pun menjadi muak. Kisah kita terlalu usang, katamu. Padahal kisah klasik itulah alasanku mengumpulkan nyali untuk kembali menyapa.

Kudapati tenang di saat kamu menyambutku pulang, tanpa kusangka itu semua semu. Karena di tengah jalan, kamu menjadi dirimu yang tak lagi bisa kukenali. 

Kamu bukan lagi kekasihku, bukan kecintaanku

Lelaki yang kukasihi itu sudah pergi. Dia pergi ke tempat yang tak  boleh kujangkau. Garis pertahanan yang kamu buat membuatku tersadar bahwa bukan lagi aku yang kamu mau.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini