Selesai sudah semua usahaku untuk mengetuk pintu hatimu. Tak kusangka kesalahpahaman justru yang paling besar perannya dalam memukul mundur hati yang sedang bergantung. 

Kamu yang kulihat sebagai satu-satunya cahaya di gelapnya perjalananku, kini pergi entah ke mana. 
Kamu yang katanya mau menuntun, tapi malah berbalik menuntut untuk diyakinkan juga.
Kamu yang kukira cinta, nyatanya yang paling besar dustanya. 
Kamu tempatku berlari mencari pertolongan, kamu pula yang makin meyakinkan bahwa aku tak berharga.

Tak kusangka hatimu begitu kejam. Setelah kejatuhanku masih juga kamu buat aku tersungkur berdarah-darah meratapi kesakitanku. Benarkah tulus yang kurasa itu palsu? Benarkah peluk hangat itu semu? 

Kesaksianmu yang mana yang benar datangnya dari hati?

Masih tak kupercaya, kamu yang kuizinkan menjadi satu-satunya seseorang yang memahami hatiku, kini menjadi seseorang yang paling ingin kumaki. Aku marah atas semua kebohonganmu. Aku marah karena kamu tinggalkan aku di tengah pengharapanku. Aku marah karena ternyata kamu tak memiliki kejujuran atas hatimu sendiri. 

Di antara banyaknya wanita, kenapa aku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini