Untuk Hafiz
aku tak berharap kalau tulisanku ini suatu hari akan sampai ke matamu. yang bisa kulakukan hanya menulis mengikuti kata hati tanpa diikuti oleh ego. jika susunan kalimatku ini telah sampai padamu di hari yang tak kutahui waktunya, tolong baca dengan menyertakan hatimu, bukan egomu sebagai lelaki.
Mahyudin Hafiz Al Falah
satu nama yang tersemat pada seorang kamu. sebelum mengenalmu, aku merasa namaku lah yang terindah. hingga pada hari pertama kamu menyapaku di ruang percakapan online itu, aku tahu bahwa takhta tertinggi namaku tergeserkan oleh kamu. hari pertama kita saling menyebutkan nama bukanlah hari yang sama dengan hari pertama kita berjabat tangan. tapi bagiku, semua tentang kita adalah yang pertama. mutlak.
pada jumpa pertama, tak ada yang istimewa dariku untuk menyambut cerita kita. tanpa kusadari, aku telah berani untuk menjadi diri sendiri di hadapan seseorang yang telah mencuri hatiku. aku yang tak memedulikan apa itu warna bibir, tebal alis, rona pipi atau bentuk rambut. kuhadirkan aku yang seapa adanya. 12 tahun yang lalu, dan masih terekam jelas di ingatanku tentang pertemuan itu. suaramu, sikapmu, tawamu, hangat jabat tanganmu, dan gaya rambutmu. semua tersimpan rapi di ruang rindu yang tak pernah kosong. malam itu, untuk pertama kalinya kita bernapas di udara yang sama, berada di ruang dan waktu yang sama. meski kita tidak hanya berdua, tapi bagiku saat itu adalah hanya tentang kita. tak banyak kata yang saling kita lempar karena aku yang payah dalam mencari kosa kata di depanmu kala itu. di malam bersejarah itu tak lagi aku bisa bersikap biasa terhadapmu. aku makin mencandui kebersamaan kita, aku merindukan suaramu di lengang udara, aku butuh ditatap oleh matamu yang di dalamnya aku rela tenggelam. hingga aku banyak berusaha untuk membuatmu mau untuk menciptakan temu.
hari berganti, hingga pada akhirnya aku yang tak lagi mampu menahan luapan rasa yang tertahan di dalam dada. kuungkapkan semua yang membuat ribut isi kepalaku. pada malam itu kita menjadi sepasang yang tak menuntut janji. hari-hariku berjalan menjadi penuh warna. seketika aku menjadi lebih manis dibanding aku yang biasanya, aku menjadi ingin melihat tawamu lebih banyak dari biasanya, aku ingin menjadi wanita yang dibanggakan oleh kekasihnya. segala upaya kujalani demi kamu.
kamu berhasil memasuki palung hatiku. meski dari hal sederhana, tapi sederhanamu itu istimewa. aku suka caramu memanggilku dengan kata sayang, aku suka suara tawamu saat berhasil mengalahkan debatku tentang hobi kita, aku suka caramu memandangku, aku suka caramu menyesap kopi hitam buatanku, aku suka saat kamu main futsal, aku suka berisiknya kamu saat main PS, aku suka kamu menghabiskan masakanku, aku suka percakapan kita di ruang chat, aku suka caramu menyeimbangkan aku, aku suka caramu mengartikan bahasaku, aku suka ritual kita sebelum pamit dipisahkan malam, aku suka semua tentang kamu, tentang kita.
kukira kisah kita indah, kukira hanya kita pemerannya. tapi ternyata semua indah itu berubah menjadi sakit yang tak pernah kusangka akan secepat itu datangnya. kupilih mundur, kubiarkan kamu pergi karena aku sadar diri bahwa sejak awal bukan aku yang kamu mau. tulusku kalah.
aku terluka, tapi aku tak memaksa untuk sembuh. aku kecewa, tapi aku tak menuntut kamu untuk memperjuangkan aku. karenamu aku mengerti bahwa cintaku memang tak sepadan untuk kamu yang istimewa. bertahun-tahun aku menghakimi diri sendiri, mencari jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi hingga aku tersisihkan. hingga akhirnya kenyataan menamparku, bukan aku yang salah atau tak pantas, hanya saja bukan aku tujuanmu. butuh waktu lebih dari seribu malam untuk aku menyadarinya. luka itu tak seharusnya kupelihara terlalu lama, agar tak juga memberatkan langkahmu di luar sana.
tahun berganti hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang kukira rumah. tapi pada akhirnya, aku tersakiti lagi. dikarenakan dia, aku kehilangan diriku sendiri. dan kemudian aku berlari ke arahmu lagi berharap bisa menemukan aku lagi melalui kenangan kita. hingga di tengah cerita kamu memilih untuk tak lagi menggenggam tanganku, tak lagi menuntun aku untuk kembali pulang ke diriku sendiri. lagi, aku yang sedang tertatih, kamu patahkan kakiku hingga membuatku tak bisa lagi berdiri. kalut, kecewa, marah, sedih, semua emosi buruk melebur jadi satu. aku kembali menatap cermin, membaca semua tanya di dalam kepala "apakah aku tak seberharga itu?"
tapi kemudian nuraniku berkata "ini bukan pertama kali aku ditinggalkan. kalau dulu sudah terlewati, harusnya kali ini aku bisa lebih kuat menghadapinya". dan ya, ini aku sekarang.
ya, Fiz. ini aku sekarang. aku yang sekarang tidak lagi berisik perihal rindu. aku jauh lebih tenang menghadapinya. aku pun sudah mampu mendoakan kebaikanmu, karena dulu aku sungkan menyebut namamu dalam munajatku. aku sudah bisa menerima diriku sedikit demi sedikit. aku yang sekarang tidak akan sama lagi dengan aku yang denganmu dulu. begitupun kamu. di saat aku mengadu tentang perih padamu, tak lagi kutemui kamu yang dulu. kusadari itu di saat kamu memilih melepas genggaman tanganku lagi. kini tidak lagi aku dikuasai amarah dan kecewa. maafkan aku yang menuntutmu untuk menuntunku.
kini aku perlahan sembuh dengan usahaku sendiri. demi apapun rasanya setenang ini, senyaman ini. cintaku bukan dipaksa bungkam, rinduku bukan dipaksa runtuh. hanya saja aku yang sekarang adalah aku yang tahu diri bahwa aku bukan tujuan yang diinginkan.
sejujurnya, aku berharap masih ada satu pertemuan untuk kita. di saat itu aku ingin menumpahkan segala rindu, resah, marah dan semua emosi yang terpendam. tapi kusadari, menanti hari itu sama seperti dulu aku menanti kamu mengungkapkan kata sayang terlebih dahulu seperti di saat masa lalu. dalam khayalku ada kita yang saling mengungkap isi hati, saling melingkarkan lengan dan saling bersandar. kalaupun harus menjadi temu terakhir, setidaknya aku melepasmu dengan pelukan. tapi kembali lagi, aku yang sekarang adalah aku yang tahu diri.
terima kasih sudah pernah menjadi lelaki yang kusematkan di hatiku sebagai kekasih, pernah menjadi puisiku, pernah membuatku merasa dicintai walau sebentar, pernah membuatku merasa jadi wanita paling bahagia. kalau bukan karena kamu, aku tak akan tahu bahwa aku bisa mencintai sebesar itu.
aku sudah pulang, Fiz. pulang ke diriku sendiri.
terima kasih sudah menjadi pernah yang tak akan kusesali adanya. aku akan baik-baik saja. begitupun kamu.
Komentar