Hafiz, tau gak?
Rambutku sekarang mulai panjang lagi dari yg sebelumnya aku pangkas sendiri bermodalkan gunting tumpul dan cermin besar. Aku sudah suka nonton bola lagi, bahkan voli juga. Bulutangkis sesekali, futsal pun kugilai lagi.
Oh iya, aku nonton Conan lagi loh.
Meskipun untuk membaca buku dan komik belum juga kudapati hasrat itu kembali. Tapi setidaknya perlahan aku mulai menemukan jalan pulang. Meski samar.
Berat badanku stabil, pola makan biasa, pola tidur masih sama; masih berharap ada sapa darimu di ujung waktu jam 2 pagi. Jika tak ada, berarti bukan hari ini. Begitu terus sampai entah kapan. Padahal kan aku sudah berjanji takkan mencari kamu, tapi aku berharap kamu yang mencariku meski mustahil.
Dan tau gak, aku kemarin baru saja berbagi cerita pada salah satu orang dewasa yang kuanggap akan memahami keadaanku. Dan responnya adalah "masa seorang kamu bisa sakit seperti ini?" Aku hanya menimpalinya dengan senyum getir sambil berkata "berarti aku pandai menutupi luka"
Hafiz, kapan ya aku bisa benar-benar pamit dari kamu? Benar-benar hilang dari kamu dan aku tak lagi menyebut namamu. Tidak lagi melapor tentang apapun yang aku lakukan, tentang kabarku yang tak pernah membuatmu penasaran. Menjaga hati sendiri itu lelah, Fiz.
Fiz, kamu muak gak dengan semua caraku menyayangimu? Entah cara yang terus terang atau diam-diam.
Rambutku sekarang mulai panjang lagi dari yg sebelumnya aku pangkas sendiri bermodalkan gunting tumpul dan cermin besar. Aku sudah suka nonton bola lagi, bahkan voli juga. Bulutangkis sesekali, futsal pun kugilai lagi.
Oh iya, aku nonton Conan lagi loh.
Meskipun untuk membaca buku dan komik belum juga kudapati hasrat itu kembali. Tapi setidaknya perlahan aku mulai menemukan jalan pulang. Meski samar.
Berat badanku stabil, pola makan biasa, pola tidur masih sama; masih berharap ada sapa darimu di ujung waktu jam 2 pagi. Jika tak ada, berarti bukan hari ini. Begitu terus sampai entah kapan. Padahal kan aku sudah berjanji takkan mencari kamu, tapi aku berharap kamu yang mencariku meski mustahil.
Dan tau gak, aku kemarin baru saja berbagi cerita pada salah satu orang dewasa yang kuanggap akan memahami keadaanku. Dan responnya adalah "masa seorang kamu bisa sakit seperti ini?" Aku hanya menimpalinya dengan senyum getir sambil berkata "berarti aku pandai menutupi luka"
Hafiz, kapan ya aku bisa benar-benar pamit dari kamu? Benar-benar hilang dari kamu dan aku tak lagi menyebut namamu. Tidak lagi melapor tentang apapun yang aku lakukan, tentang kabarku yang tak pernah membuatmu penasaran. Menjaga hati sendiri itu lelah, Fiz.
Fiz, kamu muak gak dengan semua caraku menyayangimu? Entah cara yang terus terang atau diam-diam.
Komentar