Buang waktu untukku itu tak sepadan ya? Aku tak seberharga itu ternyata. Caraku meminta perhatian masih sama. Dan tetap tak diterima. Aku masih kalah dari sebuah ego. Jangankan dirayakan, dimenangkan pun aku tak layak.

Sial. Rasa percaya diri yang mati-matian kubangun harus runtuh hanya karena sebuah pengabaian. Andai kutahu ini akan terjadi, maka akan kukubur rinduku sedalam palung dan kuagungkan egoku. Aku hanya dipermainkan oleh ilusi yang sengaja diciptakannya untuk membuaiku lalu menjatuhkan aku lagi.

Barangkali memilih untuk benar-benar membunuh hatiku sendiri adalah pilihan paling bijak. Berharap dicintai adalah kemustahilan terbesar dalam hidupku. Meski aku sudah berusaha sekuatnya untuk menjadi rumah yang nyaman, tetap saja aku bukan yang dimaui. Baginya aku hanya penghibur. Bagiku dia adalah segalanya. Dalam pemaknaan pun berbeda maka takkan ditemukan arah yang sejalan.

Haruskah kurencanakan kepergian itu dengan cara berpamitan yang baik?
Atau menghilangkan diri dalam sunyi yang tak bertepi.
Kalau tak bisa bersama setidaknya jangan buat aku berharap bahwa aku masih memiliki peluk itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini