Cukup seperti ini saja. Tidak beranjak ke mana pun, tidak bergeser sama sekali. Keadaan ini sudah sangat cukup untuk kusyukuri. Walau tak banyak kembang api lagi, setidaknya tanganku tidak mengusap sesuatu yang membuat basah di sudut mata. Aku tak meminta lebih dari ini. Cukup seperti ini saja.

Karena aku tahu, semakin banyak aku meminta maka semakin banyak pula yang tergantikan. Benar kata seorang pujangga yang kukagumi, ia berkata bahwa cinta adalah tentang apa yang membuatnya bahagia. Dan inilah cintaku. Membunuh ego sendiri demi tak mengusik zona nyamannya yang di dalamnya tidak ada aku.

Demi tetap bisa mendengar kabar, aku rela mengecilkan hati sendiri. Menjadi pemeran antagonis untuk diri sendiri tapi bersikap sehangat rumah untuknya. Meski hati rindu ingin ini dan itu, tapi jika dia tidak maka tidak akan ada ini dan itu.

Dia ada tapi hatinya tidak lagi di sana. Pemaklumanku harus lebih panjang lagi. Menjadi yang kalah bagiku adalah biasa. Aku yang tak tahu caranya menang dan merayakan atau pun dimenangkan dan dirayakan ini sudah terlatih untuk tak dilihat ada.

Aduh, ternyata sakit juga rasanya menjadi aku. Kemunafikan ini menyakitkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini