Entah kenapa ada sikap sungkan untuk kembali menyapamu. Aku takut mengganggu atau bahkan ditolak. Karena dengan penuh kesadaran aku tahu bahwa aku adalah pihak antagonis dalam cerita usang ini. Meski jahat yang kulakukan adalah sebuah sesal terbesarku. Aku menyakitimu tanpa sadar kalau aku pun menyakiti diri sendiri.
Aku memerangi akal sehatku untuk berani mengatakan satu kalimat ini kepadamu.
"Hai Hafiz, aku rindu kamu".
Ungkapan hati ini bukan untuk mencari pembenaran ataupun pengakuan darimu. Karena aku tak sepantas itu lagi untuk dibalas. Dikarenakan kita masih memiliki jalan untuk saling mencari kabar, maka aku tidak memedulikan apa pun yang menentang hatiku. Walau sudah kuadukan rindu ini pada Semesta, namun masih ada sesuatu yang mendorongku untuk meluapkannya padamu. Aku tak mau menyesal, kuruntuhkan egoku agar tak lagi kutemui tangis yang menyesakan.
Bagaimana mungkin rasaku bertumbuh makin dalam diketiadaan hadirmu di sisiku. Kamu apakan aku ini?
Meski orang lain berkata tak waras bila aku masih mengasihimu, aku tak peduli. Aku tak membutuhkan izin dari siapapun untuk menambatkan hatiku. Hatiku keras kepala dalam mencintaimu.
Komentar