Masihkah boleh namamu menjadi tempat pulangku?
Jika masih diperkenankan maka akan kupeluk erat hatimu dengan benar, pelukan yang tak terlalu erat namun tenang. Karena di sepi dan riuhnya hidupku, hanya bahumu yang kucari. Kuyakini bahwa kita tidak pernah benar-benar pergi. Detak jantungmu masih bergema di ingatanku. Masihlah kulihat pelangi sebagai matamu.
Di banyaknya rencana hidup yang gagal, kehilangan kita adalah satu-satunya yang masih kupercaya sebagai sebuah mimpi. Langkahku tertatih, mengikuti arah mata angin pun terasa menyesatkan. Yang bisa ku jadikan pegangan adalah namamu yang masih lantang kusebut di doa-doa panjangku.
Hari ini banyak kebaikan yang datang padaku. Ingin sekali rasanya berceloteh padamu tanpa peduli waktu, memamerkan foto-foto estetisku, makanan baru yang hari ini kucoba, rasa sakit kepala yang sudah hilang, wangi parfum baru yang membuatku pusing, lagu apa saja yang aku dengar hari ini, dan cerita lainnya. Tapi, rasa sungkanku melebihi rasa antusiasku. Aku tak mau mendobrak zona nyamanmu. Cukuplah di sini aku sedikit meluapkan isi hatiku.
Malam sudah di penghujung. Aku istirahat lebih dulu ya.
Semoga mimpimu seindah hatimu. Selamat malam.
Komentar