Hai lelaki baikku, kekasih hatiku
Hari ini rinduku pecah dalam tangis tengah malam. Aku hanya bisa mengirimkan doa yang di dalamnya kusebut namamu. Meminta segala kebaikan mengelilingimu dan menjauhkan segala yang membuatmu bersedih. Hanya doa yang bisa kulakukan sekarang karena aku tak memiliki cukup nyali lagi untuk melewati batas. Percakapan terakhir kita membuatku mati langkah. Terasa nyata bahwa hadirku bukan harapanmu. Maka kupilih diam dan putar badan. Biar munajatku saja yang melalukan tugasnya.
Kubaca ulang percakapan kita dari tahun lalu, terasa sedikit hangat di dalam dada tapi juga ada sesuatu yang terasa menampar dengan keras. Kenyataan bahwa aku lah pemeran jahatnya, egoku yang meminta untuk ditimang adalah sikap kekanakan yang baru kusadari. Hingga akhirnya di saat kamu menerapkan batas tetapi aku dengan tidak tahu diri mencoba untuk melewatinya dan kamu tetap pada pendirianmu namun aku mengecapmu sebagai penjahatnya. Padahal, aku lah yang jahat.
Tapi perlu kamu ketahui, aku bersikap egois adalah caraku untuk melindungi diri. Aku butuh dianggap segalanya di saat aku jatuh kala itu. Berjalannya waktu, aku tak mampu menahan lagi. Kesombonganku luruh oleh kejujuran hatiku, kuakui kamu masih tersimpan rapi di dalam aku. Ada bagian diriku yang terasa lengkap bila masih bisa kusebut namamu.
Bila waktu masih mengizinkan kita untuk bernapas di udara yang sama, beri aku waktu untuk menyampaikan apa yang membuat dadaku sesak. Maaf tulusku yang belum tersampaikan dengan cara yang santun. Semua akan terasa ringan jika sudah kukatakan kepada matamu.
Maka tuan, beri aku kesempatan untuk menyampaikan apa yang seharusnya kukatakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Bukan untuk penyelesaian tetapi untuk meluruskan.
Biarlah rinduku tak lagi terbalas dengan rasa yang sama. Seperti katamu, rinduku tak mengganggumu tapi deritanya di aku. Jelas sudah. Aku sejak awal rindu sendirian.
Hari ini rinduku pecah dalam tangis tengah malam. Aku hanya bisa mengirimkan doa yang di dalamnya kusebut namamu. Meminta segala kebaikan mengelilingimu dan menjauhkan segala yang membuatmu bersedih. Hanya doa yang bisa kulakukan sekarang karena aku tak memiliki cukup nyali lagi untuk melewati batas. Percakapan terakhir kita membuatku mati langkah. Terasa nyata bahwa hadirku bukan harapanmu. Maka kupilih diam dan putar badan. Biar munajatku saja yang melalukan tugasnya.
Kubaca ulang percakapan kita dari tahun lalu, terasa sedikit hangat di dalam dada tapi juga ada sesuatu yang terasa menampar dengan keras. Kenyataan bahwa aku lah pemeran jahatnya, egoku yang meminta untuk ditimang adalah sikap kekanakan yang baru kusadari. Hingga akhirnya di saat kamu menerapkan batas tetapi aku dengan tidak tahu diri mencoba untuk melewatinya dan kamu tetap pada pendirianmu namun aku mengecapmu sebagai penjahatnya. Padahal, aku lah yang jahat.
Tapi perlu kamu ketahui, aku bersikap egois adalah caraku untuk melindungi diri. Aku butuh dianggap segalanya di saat aku jatuh kala itu. Berjalannya waktu, aku tak mampu menahan lagi. Kesombonganku luruh oleh kejujuran hatiku, kuakui kamu masih tersimpan rapi di dalam aku. Ada bagian diriku yang terasa lengkap bila masih bisa kusebut namamu.
Bila waktu masih mengizinkan kita untuk bernapas di udara yang sama, beri aku waktu untuk menyampaikan apa yang membuat dadaku sesak. Maaf tulusku yang belum tersampaikan dengan cara yang santun. Semua akan terasa ringan jika sudah kukatakan kepada matamu.
Maka tuan, beri aku kesempatan untuk menyampaikan apa yang seharusnya kukatakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Bukan untuk penyelesaian tetapi untuk meluruskan.
Biarlah rinduku tak lagi terbalas dengan rasa yang sama. Seperti katamu, rinduku tak mengganggumu tapi deritanya di aku. Jelas sudah. Aku sejak awal rindu sendirian.
Komentar